Mas Yudi On Line

Just another WordPress.com weblog

Kisah seorang Penyelam

with one comment

Ada seorang penyelam yang bertugas mencari mutiara di laut. Suatu ketika sang juragan atau bos dari si penyelam memerintahkannya untuk menyelam ke laut guna mencari mutiara yang indah dan sebanyak-banyaknya. Sebelum menyelam, sang juragan menanyakan kepada si penyelam “Kamu tahu apa tugasmu?”. Si penyelampun mengatakan dengan tegas “Tugas saya mencari mutiara!”. Kemudian ditanya lagi oleh sang juragan “Kamu tahu apa tugasmu?”, sekali lagi dengan mantap si penyelam menjawab “Tugas saya mencari mutiara!”. Dan sang juragan bertanya lagi sampai 3 kali kepada si penyelam dengan pertanyaan yang sama. Demikian si penyelam menjawab dengan jawaban yang sama pula. Mendengar jawaban dari si penyelam, akhirnya sang jurangan mengijinkan si penyelam untuk turun ke dalam laut mencari mutiara seperti yang telah di janjikannya. Maka turunlah si penyelam dengan peralatan yang ada ke dasar laut.

Sesampai didasar laut, si penyelam terkesima melihat pemandangan bawah laut yang sangat indah. Ikan-ikan berwarna-warni berlarian kesana kemari, rumput laut yang meliuk-liuk, terumbu karang dan keindahan-keindahan lainnya. Karena terpesona dengan semua itu, ia berusaha meraih semua itu dan memasukkannya kedalam tempat yang seharusnya akan di gunakan untuk tempat mutiara. Sekian lama ia menikmati pemandangan indah itu sampai ia melupakan tugas utamanya untuk mencari mutiara, akhirnya tabung oksigen menunjukkan persediaan oksigen sudah habis dan ia harus segera kembali ke darat. Si penyelam itu bingung karena ia tidak mendapatkan mutiara arena terlena oleh keindahan bawah laut. Dengan membawa ikan dan rumput laut dari apa yang didapatkannya, dengan harapkan sang juragan akan senang karena melihat keindahaannya, meskipun ia tidak membawa mutiara, akhirnya si penyelam naik dikepermukaan, dan di sana sang juragan telah menunggu mutiara yang telah di janjikan oleh si penyelam. Kepada sang juragan, si penyelam menyampaikan keindahan bawah laut yang beraneka ragam, ada ikan yang berwarna-warni, rumput yang meliuk-likuk dan keindahan-keindahan lainnya. Ia pun menunjukkan kepada sang juragan apa yang telah di perolehnya. Namun apa yang di lihatnya?! Ikan yang berwarna-warni itu kini telah mati dan membusuk, rumput yang meliuk-liuk itu telah layu, semua keindahan itu telah sirna. Kemudian sang juragan bertanya kepada si penyelam “Mana mutiara yang kau janjikan itu?”. Dengan menyesal dan ketakutan, si penyelam menjawab “Maaf juragan, saya lupa akan tugas saya. Saya terpesona dengan keindahan di bawah sana!”. Ia pun meminta agar di beri kesempatan sekali lagi untuk kembali ke laut dan mencari mutiara seperti yang ia janjikan, namun waktu telah habis, kesempatan telah hilang. Sang juraganpun marah mendengar jawaban itu. Si penyelam telah ingkar dengan janjinya, sehingga ia dipecat dari pekerjaannya dan harus keluar dari perusahaan itu.

Lihatlah saudaraku betapa kita ini adalah si penyelam. Sebelum kita dilahirkan, kita telah berjanji kepada “sang juragan” Allah SWT untuk beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Menjalankan kewajiban kita sebagai “penyelam” untuk mencari “mutiara-mutiara” amal ibadah di dunia sebagai bekal ketika kita kembali kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada Ku” (QS. Adz Dzariyat [51]: 56)

Namun seringnya kita terlena oleh keindahan dunia, mengingkari nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, hanya sibuk untuk meraih kenikmatan-kenikmatan dunia yang sebenarnya itu semua hanyalah semu, sehingga kita lupa akan tugas dan kewajiban kita di dunia, beribadah meraih ridlo-Nya. Dan akhirnya ketika persediaan oksigen telah habis, ketika malaikat maut telah datang menjemput, kita harus kembali kepada “sang juragan” Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan segala hal yang telah kita kerjakan sewaktu di dunia. Di saat itu, tidak berguna segala kenikmatan di dunia yang telah kita raih di dunia, harta, anak, istri, jabatan, pangkat, semua akan menjadi fana dan sia-sia, kecuali “mutiara-mutiara” amal terindah yang kita kumpulkan sewaktu di dunia.

Marilah bersama untuk instrospeksi diri. Ingatlah janji yang telah kita ucapkan kepada Sang Juragan, Allah SWT, Tuhan semesta alam, untuk beriman, tunduk dan patuh pada semua perintah-Nya. Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita selalu berada di jalan-Nya yang luruh untuk meraih syurga-Nya. Amin..ya robbal’lamin….

Written by Mas Yudi

Desember 2, 2008 at 2:22 am

Ditulis dalam Opini, Renungan

Ditandai dengan ,

Optomis bahwa kita pasti BISA

tinggalkan komentar »

Saya sering mendengar teman atau orang-orang terdekat saya ketika di hadapkan dalam sebuah tantangan, mereka mengatakan “aku tidak bisa” atau “kemampuanku tidak bisa mencapai itu” dan komentar-komentar yang lain. Setiap manusia oleh Allah SWT telah di ciptakan dengan rahasianya masing-masing. Tidak seorang pun tahu tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang, baik tentang dirinya, maupun lingkungannya.  Setiap manusia di lahirkan dengan “settingan” masing-masing. Masalahnya, kita hanya manusia yang “TIDAK TAHU” tentang “settingan” itu, termasuk kemampuan kita, yang hanya bisa di ketahui ketika semua sudah berlalu. Sesuatu yang salah ketika kita mengatakan “Aku tidak bisa melakukannya, kemampuanku hanya sebatas ini”, tapi katakanlah “Aku belum bisa”, karena pada hakekatnya kita tidak pernah tahu apakah sebenarnya kita mampu atau tidak, sementara kita belum berusaha.

Seseorang yang mengatakan “Aku tidak bisa”, dia telah mengurung dirinya sendiri dalam sebuah lingkaran mati, yang membuat dia tidak bisa berkutik apa-apa. Dia sendiri yang telah menvonis mati, kalo dirinya tidak bisa. berbeda dengan orang yang mengatakan “Aku belum bisa”. Hal ini akan menimbulkan optimisme dalam dirinya bahwa suatu saat kelak ia pasti bisa. Ia telah membuka sebuah kesempatan yang sangat lebar untuk terus berusaha untuk bisa dan selalu bisa.

Pada dasarnya apa yang terjadi pada diri kita merupakan representasi dari apa yang kita pikirkan. Orang akan mampu melakukan sesuatu yang menurut logika itu tidak mungkin menjadi mungkin, salah satunya karen faktor pikirannya. Seseorang yang di vonis dokter menderita penyakit yang dokter sudah menyatakan angkat tangan, bisa sembuh total, salah satunya karena faktor pikirannya. Dia yakin dan selalu optimis bahwa dia pasti sembuh. Rasa optimisme ini lah yang menjadikan semangat dan kekuatan untuk sembuh sebagai sebuah titik kritis dari olah pikirnya yang menyebabkan kesinergisan dari seluruh elemen tubuhnya yang akhirnya menstimulasi penyembuhannya. Sebaliknya orang yang sebenarnya tidak sakit apa-apa, bisa menjadi benar-benar sakit karena dia berpikiran bahwa dirinya sakit.

Dalam bukunya yang berjudul MESTAKUNG, Prof. Yohanes Surya, anggota tim sukses Olimpiade Fisika, menceritakan bagaimana ketika akan menghadapi ajang Olimpiade Fisiki tingkat internasional, dengan kondisi dan sumber daya yang terbatas, mereka tetap semangat dan optimis bahwa mereka akan menjadi juara. Dalam kondisi tersebut, secara tiba-tiba berbagai elemen yang ada disekitarnya serta merta tergerak mendukung langkah mereka, hingga akhirnya mereka mampu meraih apa  yang mereka cita-citakan, mengharumkan nama Indonesia di dunia, menjadi juara dalam ajang internasional Olimpiade Fisika. Ketika kita memiliki semangat yang tinggi dan optimisme yang kuat, niscaya kita akan mampu melakukannya dan dukungan dari semua pihak akan kita dapatkan, sehingga keberhasilanpun menjadi nyata.

Demikian juga ketika menghadapi suatu tantangan atau permasalahan. Optimisme, semangat dan keyakinan bahwa kita mampu dan bisa menghadapi dan melaluinya akan menjadi sebuah kekuatan besar dalam mencapai kesuksesan yang di harapkan. Namun sebaliknya, bagaimana mungkin kita berhasil, berusaha aja belum kita sudah menyatakan diri mundur/kalah. Bagaimana bisa menang, sebelum berperang sudah ngacir duluan. Hakikat kemenangan dan kekalahan adalah optimisme dan pesimisme, pustus asa dan semangat. Kemenangan akan diraih oleh mereka yang tidak mudah putus asa, tetap semangat, optimis dan selalu berpikir positif akan hari mendatang

Subhanallah. Maha Suci Allah yang merahasiakan tentang masa depan, agar kita selalu bersemangat dalam berusaha menggapai masa depan dengan penuh optimisme akan keberhasilan.

Inilah salah satu kunci kesuksesan, optimisme bahwa kita bisa. Tidak ada kata menyerah sebelum sampai pada titik paling akhir. Selalu berpikirlah bahwa KITA BISA, PASTI BISA dan HARUS BISA. Tetap semangat saudaraku meraih hari esok yang lebih cerah.

Written by Mas Yudi

September 9, 2008 at 5:18 am

Ditulis dalam Opini

Ditandai dengan , ,

Nilai seorang pemuda

tinggalkan komentar »

Menyadur apa yang di sampaikan Imam Syafi’i, beliau mengatakan bahwa “Nilai seorang pemuda adalah Ilmu dan Taqwa, ketika keduanya tidak ada padanya, maka tidak diangap keberadaannya”.

Sebagai generasi yang di harapkan keberadaannya akan mempu membawa perubahan di masa mendatang, sebagai pemimpin masa depan, sudah seharusnya seorang pemuda memiliki wawasan keilmuan yang luas yang akan mampu menciptakan ide-ide cemerlang untuk mewujudkan visi dan misi perubahan ke arah yang lebih baik. Tanpa ilmu, maka apa yang kita lakukan hanya akan menjadi sesuatu yang “ngawur” tanpa referensi dan dasar yang jelas. Akibatnya hasilnya juga “awur-awuran” alias omong kosong doang.

Ternyata bermodal ilmu saja tidak cukup untuk menunjukkan eksistensi kaum pemuda. Lebih dari pada itu, sebagai landasan utama pembentuk moral generasi muda sehingga mewujudkan generasi penerus yang memiliki akhlak yang baik dan berbudi pekerti luhur adalah ketakwaannya. Kondisi ketakwaan yang “drop” ini lah yang menjadi pangkal dari krisis moral sebagai akar permasalahan yang melanda negara ini. Banyak orang-orang “berilmu tinggi” di negara ini, tapi moralnya kadang tidak “setinggi” badannya, bahkan mungkin hanya sebatas perutnya, karena mereka hanya memikirkan urusan perutnya, karena akibat dari ketakwaan yang lemah.

Pernah ada pepatah mengatakan “Ilmu tanpa agama sombong, Agama tanpa ilmu kosong”. Marilah saudaraku, sebagai pemuda sudah saatnya kita sadar akan eksistensi kita sebagai generasi penerus harapan masa depan. Sudah saatnya kita mulai menata diri untuk masa depan yang lebih baik.

Written by Mas Yudi

September 8, 2008 at 2:34 am

Ditulis dalam Opini

Ditandai dengan ,

ANALOGI YANG MENGAGUMKAN !!!

with 2 comments

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang, “Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.

“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.

“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, dijalanan…. untuk menyadari
bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan
pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar
“mlungker-mlungker-istilah jawa-nya”, kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,
” Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.”

Si tukang cukur tidak terima,

” Kamu kok bisa bilang begitu ??”.

“Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”

!
“Tidak!” elak si konsumen. “Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada,
tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang diluar sana”, si konsumen menambahkan.

“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur. “

Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri.

“Cocok!”-kata si konsumen menyetujui.”Itulah point utama-nya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

Si tukang cukur terbengong !!!!

Written by Mas Yudi

Januari 5, 2008 at 5:19 am

Ditulis dalam Renungan

EFFECTS OF COLD WATER (Efek Air Dingin)

tinggalkan komentar »

EFFECTS OF COLD WATER
Please be a true friend and send this article to all your friends you care about.

Serangan Jantung dan kebiasaan Minum Air Panas / hangat….

Artikel ini berguna untuk semua.
Bukan saja anjuran meminum air panas selepas makan, tetapi berhubungan dengan SERANGAN JANTUNG!!!!.
Secara logik…, mungkin ada kebenarannya.. <?XML:NAMESPACE PREFIX = ST1 />Orang-orang China dan Jepang mengamalkan minum teh panas sewaktu makan… dan bukannya air ES. Mungkin sudah tiba masanya kita meniru kebiasaan minum air panas / hangat
sewaktu menikmati hidangan!!!!

Kita tidak akan kehilangan apa-apa… malah
akan mendapat faedah dari kebiasaan ini.

Kepada siapa yang suka minum air ES, artikel ini sesuai untuk anda baca. Memang enak dan segar minum air ES selepas makan, tetapi akan berakibat fatal !!
Walaubagaimanapun, Air ES akan membekukan makanan berminyak
yang baru kita makan. Ia akan melambatkan proses pencernaan kita.
Bila lemak-lemak ini terbentuk di dalam usus, ia akan menyempitkan banyak saluran dan lama kelamaan ia akan menyebabkan lemak berkumpul dan kita semakin gemuk dan menuju ke arah mendapat berbagai PENYAKIT.
Jalan terbaik…adalah untuk minum sup panas atau air PANAS/hangat selepas makan.
:Nota penting tentang SERANGAN JANTUNG!!!
Anda perlu tahu bahwa tanda-tanda serangan jantung akan mulai terasa pada tangan sebelah kiri.
Berhati-hati juga pada permulaan sakit sedikit-sedikit pada bagian atas dada anda.
Anda mungkin tidak akan mengalami sakit dada pada
serangan pertama serangan jantung.
Keletihan dan berkeringat adalah tanda-tanda pada umumnya. Malah 60% pengidap SAKIT JANTUNG tidak bangun selepas tidur.
Marilah kita
berwaspada dan berhati-hati.
Lebih banyak kita tahu, lebih cerah peluang kita untuk terus hidup…

Written by Mas Yudi

Januari 5, 2008 at 5:00 am

Ditulis dalam Kesehatan

Tujuh kalimat pesan Rosullah SAW

tinggalkan komentar »

Sabda Rasulullah SAW : barangsiapa yang hafal dan mengamalkan tujuh kalimah ini akan dimuliakan oleh Allah dan malaikat dan akan diampuni dosa-dosanya walau sebanyak buih di lautan..

1. bismillahhirrahmannirrahim : pada tiap-tap hendak melakukan sesuatu.
2. alhamdulliah : pada tiap-tiap habis melakukan sesuatu.
3. astagfirrullah : jika tersilap mengatakan sesuatu yang buruk.
4. insyaallah : jika ingin melakukan sesuatu pada mase akan datang.
5. lahaulawaquataillahbillah : bila tidak dapat melakukan sesuatu yang agak berat atau melihat sesuatu yang buruk.
6. innalillah : jika menghadapi musibah atau mekihat kematian.
7. laillahhaillah : bacalah sepanjang siang dan malam sebanyak-banyaknya.

Amalkanlah selalu moga-moga kita tergolong dikalangan orang yang terpilih oleh Allah.

Sabda Rasulluah siapa yang menyampaikan satu ilmu dan orang yang mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun sudah tiada.

Written by Mas Yudi

Januari 5, 2008 at 4:57 am

Ditulis dalam Renungan

Ditandai dengan ,

Mimpi akan tetap menjadi mimpi, kalau kita hanya begini

tinggalkan komentar »

Jadilah kamu pemimpi tapi jangan sampai terlena karena mimpi. Seindah-indah mimpi akan tetap dan selamanya menjadi mimpi yang semu, sekedar fatamorgana tiada arti, tanpa ada daya dan upaya untuk merealisasikan semua yang “berjibun” dalam benak dan pikiran kita sebagai refleksi atas mimpi yang indah di kemudian hari. Teringat perkataan seorang teman, “Hidup bukan untuk bermimpi, tapi bagaimana menghidupkan mimpi”. Mari bangkit kawan, mari buka mata sahabat. Kuatkan hati untuk langkah yang pasti meraih cita dan cinta yang hakiki, karena Mimpi akan tetap menjadi Mimpi kalau kita hanya begini :D

Written by Mas Yudi

Januari 5, 2008 at 3:24 am

Ditulis dalam Renungan

Semua akan terasa berbeda, tergantung bagaimana kita menyikapinya

tinggalkan komentar »

Saya teringat kata-kata teman saya yang dituliskan pada websitenya. Sebuah kalimat yang sederhana namun sangat bermakna.

“Kadang saya tidak mendapatkan apa yang saya sukai, tapi saya lebih memilih untuk menyukai apa yang telah saya dapatkan”.

Suka- duka, kegagalan- keberhasilan, tertawa -menangis, semua merupakan bagian dari episode lakon kehidupan manusia. Seringnya kita merasakan perasaan gembira ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, misalnya lulus sekolah, diterima di perguruan tinggi negeri, mendapatkan kado ulang tahun, mendapat pujian, waktu tanggal gajian dan episode-episode lain yang kita merasa bahagia dan gembira karena sesuai dengan keinginan kita. Namun sebalikanya, ketika apa yang kita inginkan tidak tercapai atau kita mendapatkan sesuatu yang kita tidak menghendakinya atau tidak kita inginkan kedatangannya, misalnya mendapat cercaan orang, tidak dipercaya, kehilangan orang yang disayangi, tidak naik kelas, mendapat IP yang rendah, putus cinta, dihianati dan hal-hal yang lain. Dalam keadaan-keadaan seperti itu seringnya kita merasa gundah, sedih, murung, merana. Sebagai manusia, tentu kondisi-kondisi tersebut sangatlah wajar, keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya akan membawanya kepada kesedihan. Bahkan dalam beberapa kasus, kesedihan yang teamat sangat dapat membawa dampak yang tidak baik bahkan membahayakan. Sebagai contoh banyak kasus buduh diri hanya karena ditinggal oleh pacar, aksi gantung diri hanya karena tidak bisa bayar uang SPP, dan kejadian-kejadian ironis lainnya.

Perasaan sedih, senang, bahagia ataupun berduka, pada hakikatnya merupakan hasil dari cara orang itu memandang kondisi yang menimpanya. Orang akan merasa bahagia dengan kondisi yang ada pada dirinya ketika dia mampu merespon keadaan itu dengan positif. Sebaliknya orang akan merasa sedih ketika dia merespon dengan negatif. Sehingga sedih ataupun bahagia, kitalah yang menentukan.

Kondisi apapun yang menimpa kita, baik di diterima dengan sedih ataupun bahagia, toh juga tidak akan berubah kondisi itu. Jadi untuk apa kita lebih senang memebebani diri dengan selalu berpikiran negatif dengan keadaan yang ada pada diri kita.

Bukankah lakon kehidupan kita sudah digariskan oleh Allah SWT. Semua kondisi yang ada pada diri kita adalah ketetapan yang terbaik yang telah digarikan menurut Allah SWT.

Written by Mas Yudi

Desember 12, 2007 at 7:20 am

Ditulis dalam Renungan