Archive for September 2008
Optomis bahwa kita pasti BISA
Saya sering mendengar teman atau orang-orang terdekat saya ketika di hadapkan dalam sebuah tantangan, mereka mengatakan “aku tidak bisa” atau “kemampuanku tidak bisa mencapai itu” dan komentar-komentar yang lain. Setiap manusia oleh Allah SWT telah di ciptakan dengan rahasianya masing-masing. Tidak seorang pun tahu tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang, baik tentang dirinya, maupun lingkungannya. Setiap manusia di lahirkan dengan “settingan” masing-masing. Masalahnya, kita hanya manusia yang “TIDAK TAHU” tentang “settingan” itu, termasuk kemampuan kita, yang hanya bisa di ketahui ketika semua sudah berlalu. Sesuatu yang salah ketika kita mengatakan “Aku tidak bisa melakukannya, kemampuanku hanya sebatas ini”, tapi katakanlah “Aku belum bisa”, karena pada hakekatnya kita tidak pernah tahu apakah sebenarnya kita mampu atau tidak, sementara kita belum berusaha.
Seseorang yang mengatakan “Aku tidak bisa”, dia telah mengurung dirinya sendiri dalam sebuah lingkaran mati, yang membuat dia tidak bisa berkutik apa-apa. Dia sendiri yang telah menvonis mati, kalo dirinya tidak bisa. berbeda dengan orang yang mengatakan “Aku belum bisa”. Hal ini akan menimbulkan optimisme dalam dirinya bahwa suatu saat kelak ia pasti bisa. Ia telah membuka sebuah kesempatan yang sangat lebar untuk terus berusaha untuk bisa dan selalu bisa.
Pada dasarnya apa yang terjadi pada diri kita merupakan representasi dari apa yang kita pikirkan. Orang akan mampu melakukan sesuatu yang menurut logika itu tidak mungkin menjadi mungkin, salah satunya karen faktor pikirannya. Seseorang yang di vonis dokter menderita penyakit yang dokter sudah menyatakan angkat tangan, bisa sembuh total, salah satunya karena faktor pikirannya. Dia yakin dan selalu optimis bahwa dia pasti sembuh. Rasa optimisme ini lah yang menjadikan semangat dan kekuatan untuk sembuh sebagai sebuah titik kritis dari olah pikirnya yang menyebabkan kesinergisan dari seluruh elemen tubuhnya yang akhirnya menstimulasi penyembuhannya. Sebaliknya orang yang sebenarnya tidak sakit apa-apa, bisa menjadi benar-benar sakit karena dia berpikiran bahwa dirinya sakit.
Dalam bukunya yang berjudul MESTAKUNG, Prof. Yohanes Surya, anggota tim sukses Olimpiade Fisika, menceritakan bagaimana ketika akan menghadapi ajang Olimpiade Fisiki tingkat internasional, dengan kondisi dan sumber daya yang terbatas, mereka tetap semangat dan optimis bahwa mereka akan menjadi juara. Dalam kondisi tersebut, secara tiba-tiba berbagai elemen yang ada disekitarnya serta merta tergerak mendukung langkah mereka, hingga akhirnya mereka mampu meraih apa yang mereka cita-citakan, mengharumkan nama Indonesia di dunia, menjadi juara dalam ajang internasional Olimpiade Fisika. Ketika kita memiliki semangat yang tinggi dan optimisme yang kuat, niscaya kita akan mampu melakukannya dan dukungan dari semua pihak akan kita dapatkan, sehingga keberhasilanpun menjadi nyata.
Demikian juga ketika menghadapi suatu tantangan atau permasalahan. Optimisme, semangat dan keyakinan bahwa kita mampu dan bisa menghadapi dan melaluinya akan menjadi sebuah kekuatan besar dalam mencapai kesuksesan yang di harapkan. Namun sebaliknya, bagaimana mungkin kita berhasil, berusaha aja belum kita sudah menyatakan diri mundur/kalah. Bagaimana bisa menang, sebelum berperang sudah ngacir duluan. Hakikat kemenangan dan kekalahan adalah optimisme dan pesimisme, pustus asa dan semangat. Kemenangan akan diraih oleh mereka yang tidak mudah putus asa, tetap semangat, optimis dan selalu berpikir positif akan hari mendatang
Subhanallah. Maha Suci Allah yang merahasiakan tentang masa depan, agar kita selalu bersemangat dalam berusaha menggapai masa depan dengan penuh optimisme akan keberhasilan.
Inilah salah satu kunci kesuksesan, optimisme bahwa kita bisa. Tidak ada kata menyerah sebelum sampai pada titik paling akhir. Selalu berpikirlah bahwa KITA BISA, PASTI BISA dan HARUS BISA. Tetap semangat saudaraku meraih hari esok yang lebih cerah.
Nilai seorang pemuda
Menyadur apa yang di sampaikan Imam Syafi’i, beliau mengatakan bahwa “Nilai seorang pemuda adalah Ilmu dan Taqwa, ketika keduanya tidak ada padanya, maka tidak diangap keberadaannya”.
Sebagai generasi yang di harapkan keberadaannya akan mempu membawa perubahan di masa mendatang, sebagai pemimpin masa depan, sudah seharusnya seorang pemuda memiliki wawasan keilmuan yang luas yang akan mampu menciptakan ide-ide cemerlang untuk mewujudkan visi dan misi perubahan ke arah yang lebih baik. Tanpa ilmu, maka apa yang kita lakukan hanya akan menjadi sesuatu yang “ngawur” tanpa referensi dan dasar yang jelas. Akibatnya hasilnya juga “awur-awuran” alias omong kosong doang.
Ternyata bermodal ilmu saja tidak cukup untuk menunjukkan eksistensi kaum pemuda. Lebih dari pada itu, sebagai landasan utama pembentuk moral generasi muda sehingga mewujudkan generasi penerus yang memiliki akhlak yang baik dan berbudi pekerti luhur adalah ketakwaannya. Kondisi ketakwaan yang “drop” ini lah yang menjadi pangkal dari krisis moral sebagai akar permasalahan yang melanda negara ini. Banyak orang-orang “berilmu tinggi” di negara ini, tapi moralnya kadang tidak “setinggi” badannya, bahkan mungkin hanya sebatas perutnya, karena mereka hanya memikirkan urusan perutnya, karena akibat dari ketakwaan yang lemah.
Pernah ada pepatah mengatakan “Ilmu tanpa agama sombong, Agama tanpa ilmu kosong”. Marilah saudaraku, sebagai pemuda sudah saatnya kita sadar akan eksistensi kita sebagai generasi penerus harapan masa depan. Sudah saatnya kita mulai menata diri untuk masa depan yang lebih baik.